Senin, 07 Juli 2008

kontemplasi....

Irama senja begitu memperdayaku
dan warna lembayung selimuti sepi
mentari jadi bulat
warna merah pudar berbaur kuning
keemasan
duh!
Mana perkasa-ku, kok sirna?
Menyublim dalam lautan ini
Lenyap gaib tuntas segala beban

Aku terbang mengambang
tak berberat tak beruang
dalam suwung - menggapai cahya-Mu
duh!

AKU, MALAM, DAN SAKIT JIWAKU.

seperti pada malam-malam yang lain,
otak tidak mau berhenti berfikir..
berbaris rapi: mimpi, ide, sesal, rindu, harapan-harapan...
lalu berjejalan
kenangan dan aroma asap terbakar
mungkin saja ada yang terbakar di sela-sela sel-sel kepalaku?
mungkin saja otakku ini sudah terlalu kering,
sehingga yang ada
justru menari-nari tanpa henti,
di saat aku butuh menepi....

mungkin saja,
kapasitas benak aku memang terbatas

mungkin saja,
harapan yang ada kelewat tinggi
sehingga sakit hati yang penuhi hari.

dan berbaris rapi: mimpi, ide, sesal, rindu, harapan-harapan
bahkan kenangan...
berjejalan.
senut-senut
seolah pipa darah dalam otak
tidak muat lagi menyimpan data

lalu malam menjadi semakin aneh.
lalu aneh menjadi semakin malam.

bantu aku.sungguh. bantu aku.

Selasa, 01 Juli 2008

bulan cekung;

kepada warga bangsa indonesia,
bangsa yang menawan di belahan bumi persada,
tempat jiwa kita ditanam,
tempat orok kita terlahir,

adalah tanah tumpah darah,
adalah genangan air mata,
adalah lanah cinta dan keriduan,

merah putih langit-mu,
darah dan nanah rakyatmu,
jeritan wanita dan anak-anak-mu
menyanyat....
bukti luka itu masih ada.

namun masih saja ada yang sempat tertawa,
dalam meriah pesta...
sesaat tersendak, bakso atau daging sapi panggang
dan mulut masih saja sibuk bicarakan omong kosong itu...

di belantara kota,
ada bocah nyaris tanpa busana
perut buncit, lengan tanpa daging,
matanya cekung, menatap bulan; pucat
kami dimiskin-kan kami dimiskinkan....

anak anak-ku

senyum tulus mereka, sungguh
menjadi bara baru dalam dada

tawa lepas mereka, sungguh
menjadi pelepas dahaga cinta dalam jiwa

bermain bola bersama mereka
menjadi istirah yang berkualitas
terima kasih, "anak-anak"-ku.

Selasa, 24 Juni 2008

cacing tanah

banyak yang terjadi dalam dua hari ini,
semuanya mengajarkan aku tentang amanah
jadi bergetar hebat, banyak yang terlewati
ups...

tiba-tiba saja, aku ingin jadi cacing tanah
yang bergerak pelan, rebah di tanah
rasai seluruh rasa bumi
dan sampah menjadi energi-ku
dan senyum mereka yang dimiskinkan oleh sistem ini....menjadi bahan bakar cinta
aku ingin lebih lama menempel di tanah ini,
bahkan perlahan aku benamkan tubuh-ku menuju pusat bumi
lenyapkan akulenyapkan aku...berharap ego menjadi moksa saja
yang tersisa,
pengabdian yang utuh untuk bocah-bocah jalanan
pelayanan sepenuh hati....dengan segala jiwa
(jangan sisa-kan ambisi diri, bakar dia... bakar dia bersama tumpukan sampah di TPA Bantar Gebang....)

entah-lah

air mata,
diperempatan....
entah sandiwara atau ketulusan
entah

curahan hati tetangga
tentang luka
tantang beban yang kelewat penat
entah sandiwara atau ketulusan
entah

lakukan saja

hal-hal berarti itu...
entah mereka pahami
atau justru disalahartikan...

entah;