malam ini aku memilih menjadi Angger Parameng Kawi. Nama Jawa. yang semakna dengan Sang pengolah kata-kata....
Angger adalah lelaki yang sepi. Sering kehilangan makna hari-hari yang dia lalui. Saat muda dulu, dia seorang yang pemurung. Sering menghabiskan senja di terminal Blok M. Di tengah hiruk pikuknya orang lalu lalang, Angger hanya menatap matahari senja, sesekali menenggak Coca Cola dingin. Dia menikmati kesendirian di tengah keramaian. Jakarta adalah belantara manusia. Karena orang-orang lalu lalang itu tidak ada yang pedulikan dia. hmmm....
Sebagai Angger Parameng Kawi, tentu aku juga belajar menjadi pemurung. Menikmati setiap denyut dalam otak. Menikmati setiap dengung dalam telinga. Malam menjadi simponi. Detak jam, dengung nyamuk, gemericik air.... bahkan denyut nadi begitu mempesona aku.
Kemarin malam, aku berbincang dengan orang-orang hebat. Calon anggota Dewan yang terhormat. Berbincang tentang tatanan masyarakat yang harus dibenahi. "Anda bisa bantu kan?" mendengar pertanyaan itu, aku hanya tersenyum. "Membantu apa? jangan-jangan aku justru bagian dari masalah di masyarakat kita??" Dalam hati, aku mengangguk. Aku kan siap jadi cacing tanah. Bahkan, jika memang diperintah menjadi Karna dalam Batarayudha -pun aku siap. atau Kumbakarna dalam Ramayana....
Jadikan saja aku kayu bakar, untuk api unggun kita ini. Jadikan saja aku kain pel dalam satu pesta. Jadikan saja aku baut kecil dalam mesin peradaban ini.
Jadilah aku: Angger Parameng Kawi, berdiri di sini, nyaris semalaman; untuk sebuah misi kebaikan yang entah... kapan kemenangan itu dapat diraih. Cacing tanah itu berbaur dengan binatang-binatang malam, membakar diri agar menjadi pelita makhluk di sekitar....
Hanoman itu berlompatan, petakilan, membiarkan bulu-bulunya terbakar. lalu melompat ke arah istana Rahwana.... biarlah tubuhnya hangus, namun istana sang durjana pun ikut terbakar....
kerja keras menggali tanah, tak peduli orang tak peduli, merangkak terus perlahan menuju pusat bumi, sampai habis nafas, sampai seluruh kulit mengelupas aku berikan padaMu, hanya pada-Mu
Selasa, 19 Agustus 2008
Senin, 07 Juli 2008
kontemplasi....
Irama senja begitu memperdayaku
dan warna lembayung selimuti sepi
mentari jadi bulat
warna merah pudar berbaur kuning
keemasan
duh!
Mana perkasa-ku, kok sirna?
Menyublim dalam lautan ini
Lenyap gaib tuntas segala beban
Aku terbang mengambang
tak berberat tak beruang
dalam suwung - menggapai cahya-Mu
duh!
dan warna lembayung selimuti sepi
mentari jadi bulat
warna merah pudar berbaur kuning
keemasan
duh!
Mana perkasa-ku, kok sirna?
Menyublim dalam lautan ini
Lenyap gaib tuntas segala beban
Aku terbang mengambang
tak berberat tak beruang
dalam suwung - menggapai cahya-Mu
duh!
AKU, MALAM, DAN SAKIT JIWAKU.
seperti pada malam-malam yang lain,
otak tidak mau berhenti berfikir..
berbaris rapi: mimpi, ide, sesal, rindu, harapan-harapan...
lalu berjejalan
kenangan dan aroma asap terbakar
mungkin saja ada yang terbakar di sela-sela sel-sel kepalaku?
mungkin saja otakku ini sudah terlalu kering,
sehingga yang ada
justru menari-nari tanpa henti,
di saat aku butuh menepi....
mungkin saja,
kapasitas benak aku memang terbatas
mungkin saja,
harapan yang ada kelewat tinggi
sehingga sakit hati yang penuhi hari.
dan berbaris rapi: mimpi, ide, sesal, rindu, harapan-harapan
bahkan kenangan...
berjejalan.
senut-senut
seolah pipa darah dalam otak
tidak muat lagi menyimpan data
lalu malam menjadi semakin aneh.
lalu aneh menjadi semakin malam.
bantu aku.sungguh. bantu aku.
otak tidak mau berhenti berfikir..
berbaris rapi: mimpi, ide, sesal, rindu, harapan-harapan...
lalu berjejalan
kenangan dan aroma asap terbakar
mungkin saja ada yang terbakar di sela-sela sel-sel kepalaku?
mungkin saja otakku ini sudah terlalu kering,
sehingga yang ada
justru menari-nari tanpa henti,
di saat aku butuh menepi....
mungkin saja,
kapasitas benak aku memang terbatas
mungkin saja,
harapan yang ada kelewat tinggi
sehingga sakit hati yang penuhi hari.
dan berbaris rapi: mimpi, ide, sesal, rindu, harapan-harapan
bahkan kenangan...
berjejalan.
senut-senut
seolah pipa darah dalam otak
tidak muat lagi menyimpan data
lalu malam menjadi semakin aneh.
lalu aneh menjadi semakin malam.
bantu aku.sungguh. bantu aku.
Selasa, 01 Juli 2008
bulan cekung;
kepada warga bangsa indonesia,
bangsa yang menawan di belahan bumi persada,
tempat jiwa kita ditanam,
tempat orok kita terlahir,
adalah tanah tumpah darah,
adalah genangan air mata,
adalah lanah cinta dan keriduan,
merah putih langit-mu,
darah dan nanah rakyatmu,
jeritan wanita dan anak-anak-mu
menyanyat....
bukti luka itu masih ada.
namun masih saja ada yang sempat tertawa,
dalam meriah pesta...
sesaat tersendak, bakso atau daging sapi panggang
dan mulut masih saja sibuk bicarakan omong kosong itu...
di belantara kota,
ada bocah nyaris tanpa busana
perut buncit, lengan tanpa daging,
matanya cekung, menatap bulan; pucat
kami dimiskin-kan kami dimiskinkan....
bangsa yang menawan di belahan bumi persada,
tempat jiwa kita ditanam,
tempat orok kita terlahir,
adalah tanah tumpah darah,
adalah genangan air mata,
adalah lanah cinta dan keriduan,
merah putih langit-mu,
darah dan nanah rakyatmu,
jeritan wanita dan anak-anak-mu
menyanyat....
bukti luka itu masih ada.
namun masih saja ada yang sempat tertawa,
dalam meriah pesta...
sesaat tersendak, bakso atau daging sapi panggang
dan mulut masih saja sibuk bicarakan omong kosong itu...
di belantara kota,
ada bocah nyaris tanpa busana
perut buncit, lengan tanpa daging,
matanya cekung, menatap bulan; pucat
kami dimiskin-kan kami dimiskinkan....
anak anak-ku
senyum tulus mereka, sungguh
menjadi bara baru dalam dada
tawa lepas mereka, sungguh
menjadi pelepas dahaga cinta dalam jiwa
bermain bola bersama mereka
menjadi istirah yang berkualitas
terima kasih, "anak-anak"-ku.
menjadi bara baru dalam dada
tawa lepas mereka, sungguh
menjadi pelepas dahaga cinta dalam jiwa
bermain bola bersama mereka
menjadi istirah yang berkualitas
terima kasih, "anak-anak"-ku.
Selasa, 24 Juni 2008
cacing tanah
banyak yang terjadi dalam dua hari ini,
semuanya mengajarkan aku tentang amanah
jadi bergetar hebat, banyak yang terlewati
ups...
tiba-tiba saja, aku ingin jadi cacing tanah
yang bergerak pelan, rebah di tanah
rasai seluruh rasa bumi
dan sampah menjadi energi-ku
dan senyum mereka yang dimiskinkan oleh sistem ini....menjadi bahan bakar cinta
aku ingin lebih lama menempel di tanah ini,
bahkan perlahan aku benamkan tubuh-ku menuju pusat bumi
lenyapkan akulenyapkan aku...berharap ego menjadi moksa saja
yang tersisa,
pengabdian yang utuh untuk bocah-bocah jalanan
pelayanan sepenuh hati....dengan segala jiwa
(jangan sisa-kan ambisi diri, bakar dia... bakar dia bersama tumpukan sampah di TPA Bantar Gebang....)
semuanya mengajarkan aku tentang amanah
jadi bergetar hebat, banyak yang terlewati
ups...
tiba-tiba saja, aku ingin jadi cacing tanah
yang bergerak pelan, rebah di tanah
rasai seluruh rasa bumi
dan sampah menjadi energi-ku
dan senyum mereka yang dimiskinkan oleh sistem ini....menjadi bahan bakar cinta
aku ingin lebih lama menempel di tanah ini,
bahkan perlahan aku benamkan tubuh-ku menuju pusat bumi
lenyapkan akulenyapkan aku...berharap ego menjadi moksa saja
yang tersisa,
pengabdian yang utuh untuk bocah-bocah jalanan
pelayanan sepenuh hati....dengan segala jiwa
(jangan sisa-kan ambisi diri, bakar dia... bakar dia bersama tumpukan sampah di TPA Bantar Gebang....)
entah-lah
air mata,
diperempatan....
entah sandiwara atau ketulusan
entah
curahan hati tetangga
tentang luka
tantang beban yang kelewat penat
entah sandiwara atau ketulusan
entah
lakukan saja
hal-hal berarti itu...
entah mereka pahami
atau justru disalahartikan...
entah;
diperempatan....
entah sandiwara atau ketulusan
entah
curahan hati tetangga
tentang luka
tantang beban yang kelewat penat
entah sandiwara atau ketulusan
entah
lakukan saja
hal-hal berarti itu...
entah mereka pahami
atau justru disalahartikan...
entah;
Langganan:
Postingan (Atom)